Penyebab dan Dampak Terjadinya Anak Tunarungu
Terima kasih telah mengunjungi Ensiklopedia.xyz . Bantu kami meningkatkan kualitas artikel dengan memberikan penilaian dan komentar pada bagian bawah halaman.
PENYEBAB TERJADINYA ANAK TUNARUNGU
Secara umum penyebab ketunarunguan dapat terjadi sebelum lahir (prenatal), ketika lahir (natal), dan sesudah lahir (postnatal). Banyak para ahli mengungkapkan tentang penyebab ketulian dan ketunarunguan, tentu saja dengan pandangan yang berbeda dalam penjabaranya.
BACA JUGA: Apa itu tunarungu?
Trybus (1985) mengemukakan 6 penyebab ketunarunguan pada anak di Amerika serikat, adalah sebagai berikut:
- Keturunan
- Campak jerman dari ibu
- Komplikasi selama kehamilan dan kelahiran
- Radang selaput otak (meningitis)
- Otitisme (radang pada bagian tengah)
Dari hasil penelitian kondisi-kondisi tersebut hanya 60% penyebab dari kasus- kasus ketunarunguan pada masa anak-anak. Meskipun sudah banyak alat-alat diagnosis yang canggih, alat alat tersebut masih belum dapat menentukan penyebab ketunarunguan yang 40% lagi.

Dan ternyata campak jerman dari ibu, keturunan, komplikasi selama kehamilan, dan kelahiran adalah penyebab yang lebih baik. Untuk lebih jelasnya faktor-faktor penyebab ketunarunguan dapat dikelompokan sbg berikut:
1. Faktor dalam diri anak
- Disebabkan oleh faktor keturunan dari salah satu atau kedua orang tuanya yang mengalami ketunarunguan
- Ibu yang sedang mengandung menderita penyakit campak jerman (rubella)
- Ibu yang sedang mengandung menderita keracunan darah atau toksaminia
2. Faktor luar diri anak
- Anak mengalami infeksi pada saat dilahirkan atau kelahiran. Misalnya, anak terserang herpes simpleks
- Meningitis atau radang selaput otak
- Otitismedia (radang telinga bagian tengah)
- Penyakit lain atau kecelakaan yang dapat menyebabkan kerusakan alat pendengaran bagian tengah dan dalam
Ada beberapa pendapat lain tentang penyebab terjadinya anak berkebutuhan khusus tunarungu, diantaranya sebagai berikut:
1. Tipe konduktif
- Kerusakan dari gangguan yang terjadi pada telinga luar yang dapat disebabkan, antara lain:
- Tidak terbentuknya lubang telinga bagian luar (atresia meatus akustikus eksternus)
- Terjadinya peradangan pada lubang telinga luar (otitis eksterna)
B. Kerusakan/ terjadi pada telinga tengah, yang dapat disebabkan antara lain oleh hal- hal berikut ini;
- Rudapaksa, yaitu adanya tekanan/ benturan yang keras pada telinga seperti karena jatuh tabrakan, tertusuk, dan sebagainya
- Terjadinya peradangan garis infeksi pada telinga tengah (otitismedia)
- Otosklerosis yaitu terjadinya pertumbuhan pada kaki tulang stapes
- Tympanosclerosis, yaitu adanya lapisan kalsium/ zat kapur pada gendang dengar (membran timpani dan tulang pendengaran)
- Anomali Kongenital dari tulang pendengaran atau tidak terbentuknya tulang pendengaran yang dibawa sejak lahir
- Disfungsi Tuba Eustachius (saluran yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan rongga mulut), akibat alergi atau tumor pada nasopharynx
2. Penyebab terjadinya tunarungu tipe sensorineural
- Disebabkan oleh faktor genetik (keturunan)
- Disebabkan oleh faktor non genetik
Faktor-faktor terjadinya tunarungu yang disebabkan karena faktor non genetik adalah sebagai berikut:
1) Rubela
2) Ketidaksesuaian antara darah ibu dan anak
3) Meningitis (darah selaput otak
4) Trauma akustik
DAMPAK ANAK TUNARUNGU
Anak yang mengalami kelainan pendengaran akan menanggung konsekuensi yang sangat kompleks, terutama berkaitan dengan masalah kejiwaanya. Pada diri penderita sering kali dihinggapi rasa keguncangan sebagai akibat tidak mampu mengontrol lingkungannya.
Disebabkan oleh rentetan yang muncul akibat gangguan pendengaran ini, penderita akan mengalami hambatan dalam meniti perkembangannya, terutama dalam aspek bahasa, kecerdasan, dan penyesuaian sosial. Oleh karena iu, untuk mengembangkan potensi anak tunarungu secara optimal praktis memerlukan layanan atau bantuan secara khusus.
Proses internalisasi suara pada seseorang yang mengalami ketunarunguan mengalami masalah sebab organ pendengaran di bagian luar, bagian tengah, dan bagian dalam yang menghubungkan ke saraf pendengaran sebagai organ terakhir dari rangkaian proses pendengaran mengalami gangguan. Terganggunya organ ini berpengaruh terhadap kepekaan penerima suara.
Ada dua bagian penting mengikuti dampak terjadinya hambatan, antara lain sebagai berikut.
- Konsekuensi akibat gangguan pendengaran atau tunarungu tersebut bahwa penderitanya akan mengalami kesulitan dalam menerima segala macam rangsang atau peristiwa bunyi yang ada di sekitarnya.
- Akibat kesulitan menerima rangsang bunyi tersebut konsekuensinya penderita tunarungu akan mengalami kesulitan pila dalam memproduksi suara atau bunyi bahasa yang ada disekitarnya.