Budidaya Sawi (Brassica Chinensis) Dengan Sistem Vertikultur
Terima kasih telah mengunjungi Ensiklopedia.xyz . Bantu kami meningkatkan kualitas artikel dengan memberikan penilaian dan komentar pada bagian bawah halaman.
Jumlah penduduk yang terus bertambah menyebabkan meningkatnya kebutuhan pangan sedangkan lahan pertanian semakin hari semakin sempit. Banyak lahan pertanian yang beralih fungsi yaitu digunakan untuk perumahan, pabrik, pertokoan, perkantoran dan lain sebagainya. Hal ini berakibat besar pada hasil produksi pertanian yang terus menurun akibat dari tuntutan masyarakat demi kelangsungan hidup dan ketersediaan lahan yang semakin sempit. Untuk mengatasi permasalahan tersebut digunakan alternatif-alternatif lain. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan sistem pertanian vertikultur.
PENGENALAN SISTEM VERTIKULTUR
Vertikultur berasal dari bahasa inggris yaitu vertical yang artinya lurus dan culture yang artinya budidaya sehingga bisa diartikan bahwa vertikultur adalah suatu sistem budidaya pertanian dengan yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat ke atas. Sistem pertanian vertikultur ini baik digunakan untuk tempat yang memiliki lahan sempit seperti perkotaan dimana di daerah perkotaan sistem ini dapat berfungsi secara maksimal dalam penggunaanya, sistem pertanian ini berbeda dengan sistem pertanian konvensional.
Sistem pertanian konvensional, dalam 1 m2 dapat ditanami 5 batang sayuran sawi, sedangkan pada sistem pertanian vertikultur, dalam 1 m2 dapat ditanami lebih dari 5 batang sawi, bisa saja 3 atau 4 kali lipat dari sistem pertanian konvensional. Selain itu pada sistem ini juga dapat ditanami selain tanaman sawi dan dilihat dari segi keindahan, sistem pertanian vertikultur ini memberikan nilai keindahan pada lingkungan disekitarnya.
Menurut Pretty et al.(2011), Selama setengah abad terakhir, pemenuhan produksi pertanian di seluruh dunia telah membantu jutaan orang untuk keluar dari kemiskinan, menghilangkan ancaman kelaparan dan menyediakan platform untuk pertumbuhan ekonomi pedesaan dan perkotaan di banyak negara. Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam produksi tanaman adalah menurun hasil dari strategi yang digunakan untuk efisiensi ekonomi. Salah satu caranya adalah dengan sistem vertikultur.
Vertikultur merupakan suatu sistem pertanian yang cara bertanamnya disusun ke atas menuju udara bebas dengan media tumbuh yang disusun secara vertikal juga. Media tanam yang digunakan bisa berupa riul, pipa paralon, ralon PVC, kaleng dan papan kayu yang dapat digunakan sebagai alternatif. Sistem pertanian vertikal di Indonesia di kembangkan sejak tahun 1987 sehingga sistem pertanian ini sudah tidak lazim lagi bagi masyarakat. Kolom vertikal atau undakan ke atas yang paling sederhana bisa terbuat dari mulsa hitam perak dengan kerangka yang terbuat dari bambu (Wartapa et a.l, 2010).
Pada prinsipnya, cara bercocok tanam vertikultur ini tidak berbeda dengan cara bercocok tanam di kebun atau di lahan datar. Perbedaan mendasar adalah dalam penggunaan lahan produksi tanaman. Teknik vertikultur memungkinkan dilakukan dalam luasan satu meter persegi untuk dapat ditanami dengan jumlah yang jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan penanaman di lahan mendatar (Lukman, 2011).
Sistem budidaya vertikultur ini sangat baik digunakan pada daerah yang memiliki lahan sempit seperti daerah perkotaan, perumahan dan lain sebagainya. Usahatani yang secara komersial dapat dilakukan dengan sistem tanam vertikultur, apalagi jika hanya kebutuhan sendiri seperti sayuran. Jenis tanaman yang cocok pada sistem vertikultur ini adalah tanaman semusim, sayuran yang tingginya tidak lebih dari 1 meter dan beberapa jenis bunga, misalnya seperti tanaman cabai, kangkung darat tomat, terong, sawi, seledri, daun bawang, kubis, bayam, brokoli, bunga anggrek, selada dan bawang merah (Yulida, 2012).
Menurut Rasapto (2010), sistem pertanian vertikultur ini memiliki beberapa kelebihan penanaman yaitu; (1) kualitas produksi lebih tinggi dan kontinuitas produksi dapat dijaga, (2) kualitas produksi lebih baik dan lebih bersih, (3) menunjang pendapatan keluarga, (4) menambah nilai estetika, (5) menambah gizi, (6) menghilangkan stres, (7) menjadi lahan bisnis, (8) sumber tanaman obat bagi keluarga atau toga, (9) hemat pemakaian pupuk, air, tenaga kerja dan benih, (10) dapat mengurangi gulma, (11) efisiensi penggunaan lahan.

Penyerbukan bunga sawi dapat berlangsung dengan bantuan serangga lebah dan manusia. Hasil dari penyerbukan ini terbentuk buah berupa biji. Buah sawi termasuk tipe buah polong, yakni bentuknya memanjang dan berongga. Tiap buah ( polong) berisi dua sampai delapan butir biji. Biji sawi berbentuk bulat kecil yang berwarna coklat atau coklat kehitam-hitaman. Produksi utama dari sawi adalah daun-daunnya. Sawi dapat dikonsumsi dalam berbagai bentuk masakan, sebagai sayur daun (Rukmana, 1994).
Bahan dan Alat
Bahan:
- Benih tanaman Sawi
- Tanah Kompos
- Air
Alat:
- Bambu
- Tali
- Paku, Parang, Gergaji
- Botol Aqua Bekas
CARA KERJA
1. Menyiapkan bangunan vertikultur dari bahan-bahan yang telah disediakan
2. Mengisi bangunan vertikultur yang telah dibuat dengan campuran media yang ada. Kemudian memberikan nutrisi sebelum bibit ditanam
3. Menanam bibit atau benih ke dalam bangunan vertikultur secara perlahan agar bibit atau benih tidak rusak
4. Melakukan pengamatan secara teratur
5. Mengamati pertumbuhan tanaman sesuai dengan parameter pengamatan
PEMBUDIDAYAAN
1 Pembenihan
Perbanyakan tanaman sawi dilakukan dengan benih. Benih sawi diperoleh dari tanaman yang dibiarkan hingga berkembang dan akhirnya tua, berbuah dan menghasilkan benih. Sebelum dikebunkan benih sawi disemaikan dahulu pada media tanam yang sesuai. Bibit yang sudah berdaun 4 helai dapat dipindah Ke media tanam vertikultur yang telah disiapkan.
Wadah yang digunakan bisa bermacam-macam baik dari segi ukuran, bahan maupun modelnya. Bahan yang digunakan bisa berupa pipa paralon, gully, bambu, karung beras ataupun kaleng bekas, sedangkan wadah yang bisa dipakai berbentuk anak tangga, persegi panjang dan segitiga. Penanaman pada vertikultur menggunakan media tanam yang baik, media tanam yang baik adalah media yang memiliki kandungan unsur hara yang cukup dan tekstur yang baik. Pada sayuran diharapkan daun yang dihasilkan berwarna hijau, segar dan bagus. Oleh karena itu tanaman tersebut diberi pupuk yang dapat merangsang hijaunya daun segar dan renyah bila dikonsumsi.
Media tanam adalah tempat tumbuhnya tanaman untuk menunjang perakaran. Dari media tanam inilah tanaman menyerap makanan berupa unsur hara melalui akarnya. Media tanam yang digunakan adalah campuran antara tanah, pupuk kompos, dan sekam dengan perbandingan 1:1:1:1. Setelah semua bahan terkumpul, dilakukan pencampuran hingga merata. Tanah dengan sifat koloidnya memiliki kemampuan untuk mengikat unsur hara, dan melalui air unsur hara dapat diserap oleh akar tanaman dengan prinsip pertukaran kation. Sekam berfungsi untuk menampung air di dalam tanah sedangkan kompos menjamin tersedianya bahan penting yang akan diuraikan menjadi unsur hara yang diperlukan tanaman.
2 Penanaman
Akhir musim hujan merupakan pilihan yang tepat untuk bertanam sawi. Apabila terpaksa, dapat juga ditanam pada musim kemarau, tetapi harus bisa memberikan air dalam jumlah yang cukup bagi tanaman. Bibit yang sudah layak pindah bisa langsung ditanam pada media vertikultur. Angkat bibit dari media persemaian dengan tidak merusak akarnya, Penanaman dilakukan sore hari.
Tanaman yang biasa ditanam adalah tanaman yang memiliki sistem perakaran pendek, nilai ekonomis tinggi dan berumur pendek. Jenis tanaman yang biasa ditanam adalah tanaman sayuran yang berumur pendek dengan sistem perakaran serabut. Tanaman sayuran yang sering dibudidayakan antara lain bayam, selada, pokcoy, kangkung, caisim, katuk, kacang panjang, kemangi, pare, tomat, mentimun dan tanaman sayuran daun lainnya. Pengembangan vertikultur dengan tujuan komersial perlu dipertimbangkan aspek ekonomisnya agar biaya produksi jangan sampai melebihi pendapatan dari hasil penjualan tanaman, sedangkan untuk hobi, vertikultur dapat dijadikan sebagai media kreativitas dan memperoleh panenan yang sehat dan berkualitas.
3 Pemeliharaan
Tindakan pemeliharaan untuk tanaman sawi yang rutin adalah penyiraman. Penyiraman dilakukan sejak dari persemaian hingga di lahan. Gunakan gembor yang air siramannya halus. Saat curah hujan sedikit, penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari. Melakukan penyulaman pada tanaman yang mati sangat perlu dilakukan paling tidak satu minggu setelah tanam. Selanjutnya pembersihan lahan dari rumput yang mengganggu agar tidak ada persaingan dalam perebutan unsur hara. Pembersihan dapat dilakukan secara manual dengan mencabut rumput menggunakan tangan
4 Pemupukan
Tanaman sawi menyukai tanah yang gembur dan subur, maka harus ditambahkan pupuk. Selain pupuk kandang, sawi juga membutuhkan pupuk tambahan terutama yang banyak mengandung unsur nitrogen, pupuk urea dengan dosis 3 gram per tanaman sudah memadai. Dosis ini setara dengan 60 kg kadar nitrogen per hektar. Pupuk KCl dan TSP juga bisa diberikan dengan dosis cukup sepertiganya. Akan tetapi, yang lebih penting ialah pupuk urea saja karena penting untuk pertumbuhan sayuran daun ini.
5 Hama dan Penyakit
Hama yang banyak menyerang tanaman sawi terutama ulat yang memakan daun. Gejalanya terlihat pada bekas-bekas gigitan berupa robekan tidak merata di daun sawi atau lubang-lubang. Pengendaliannya dapat dilakukan dengan mengambil ulat yang terlihat pada tanaman sawi apabila penyerangan belum terlalu banyak.
Sedangkan penyakit yang umum ditemukan pada tanaman sawi adalah penyakit akar pekuk, bercak daun, dan rebah semai. Pengendalian dapat dilakukan dengan penyemprotan larutan WT Bakterisida dosis 10 ml/liter air dan WT Glio dosis 10 ml/liter air (Nazaruddin, 2003).
PEMANENAN
Tanaman sawi dapat dipanen pada umur 30-40 hari setelah tanam dan memenuhi syarat untuk dikonsumsi. Bila pertumbuhan tanaman kurang baik, sawi rata-rata dipanen saat umur dua bulan. Pemanenan dilakukan dengan cara mencabut semua bagian tanaman di atas permukaan tanah.